Tampilkan postingan dengan label Kuliah Matrikulasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Matrikulasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Belajar

BELAJAR


a.  Definisi Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, dan sikap manusia terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar. Suryabrata (dalam Khadijah, 2009:43). Dengan demikian, belajar merupakan proses penting yang terjadi dalam kehidupan setiap orang. Karenanya, pemahaman yangbenar tentang konsep belajar sangat di perlukan, terutama bagi kalangan pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Beberapa definisi belajar yang disampaikan oleh beberapa para ahli, dapat dilihat sebagai berikut :
§  Moh. Surya (1997): "belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya".
§  Witherington (1952): "belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan".
§  Lester D. Crow dan Alice  Crow  (dalam Khadijah, 2009:44) menyatakan belajar adalah perolehan  kebiasaan, pengetahuan dan sikap,termasuk cara baru untuk melakukan sesuatu dan upaya-upaya seseorang dalam mengatasi kendala atau menyesuaikan situasi yang baru"
§  Hilgard dan Bower (dalam Khadijah, 2009:44) "belajar adalah suatu proses dimana sebuah aktivitas di bentuk atau diubah melalui reaksi terhadap situasi yang dihadapi , yang mana karakteristik perubahan tersebut bukan disebabkan oleh kecenderungan respon alami, kematangan atau perubahan sementara karena sesuatu hal. "
§  Di Vesta dan Thompson (1970) : "belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman ".
§  Gage & Berliner : "belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman "
§  Bell-Gredler (dalam Khadijah, 2009:43) menyatakan belajar sebagai proses perolehan berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap (learning is the process by which human being acquire a vast variety of competencies, skills, and attitudes)
Dari berbagai pengertian belajar yang dikemukakan para ahli di atas, dapat di simpulkan bahwa (dalam Khadijah, 2009:46):
1. Belajar adalah sebuah proses yang memungkinkan seseorang memperoleh dan membentuk kompetensi, dan sikap yang baru.
2. Proses belajar melibatkan proses-proses mental internal yang terjadi berdasarkan latihan, pangalaman dan interaksi sosial.
3. Hasil belajar ditunjukkan oleh terjadinya perubahan perilaku (kognitif, afektif, psikomotorik)
4. perubahan yang dihasilkan dari belajar bersifat relatif permanen.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
               Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
1. Faktor Internal
               Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a. Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
 Kedua, keadaan fungsi jasmani atau fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat kuratif.
b. Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat adalah:
1.        kecerdasan /intelegensia siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemempuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsaganan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi iteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya.
2.   Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Maslow seperti yang dikutip dalam Frandsen (dalam Khadijah, 2009:56) mengemukakan motif-motif belajar itu adalah:
1. adanya kebutuhan fisik
2. adanya kebutuhan akan rasa aman
3. adanya akan kebutuhan kecintaan dan penerimaan dari orang lain
4. adanya kebutuhan untuk mendapatkan kehormatan
5. adanya kebutuhan untuk aktualisasi diri.
3. Sikap
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya.
4. Bakat
bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
5. Minat
Secara sederhana minat ( interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Adanya minat terhadap objek yang dipelajari akan mendorong orang untuk mempelajari sesuatu dan mencapai hasil belajar yang maksimal.
2. Faktor-faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

Lingkungan sosial                      
a.    Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar
b.  Lingkungan sosial massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.    Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

Lingkungan non sosial.
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;
a.       Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
b.      Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti  kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c.       Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan.

C. Teori-Teori Belajar
1. Teori belajar behaviorisme
Menurut teori behaviorisme, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku, dimana perubahan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai stimulus yang datang dari luar diri subyek. Teori ini menekankan proses belajar sebagai perubahan relative permanent pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman.
Pada bagian berikut ini secara berturut-turut akan dideskripsikan secara ringkas pandangan empat tokoh behaviorisme yakni Ivan Petrovich Pavlov, Edward Thorndike, dan Skiner.

1.1. Teori Koneksionisme (Edward Thorndinke)
Teori belajar Edward Thorndike sering disebut juga Connectionism Theory. Menurut teori koneksionisme belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons. Bagi Thorndike, perubahan perilaku belajar dapat berwujud perilaku yang konkret dan dapat diamati (observable behavior) serta perilaku yang tidak tampak dan tidak dapat diamati (hidden behavior). Kendati Thorndike tidak mengajukan prosedur pengukuran perilaku dalam teorinya, namun harus diakui bahwa teorinya telah memberikan inspirasi kepada para behaviorist yang datang sesudahnya.
Thorndike  juga membuat rumusan hukum belajar (dalam Khadijah, 2009:64), yaitu:
a. Law of readiness (hukum kesiapan) menyatakan belajar akan terjadi bila ada kesiapan dari
    individu.
b. Law of exercise ( hukum latihan) menyatakan latihan saja tidak cukup, latihan hanya akan
    membawa hasil bila diikuti oleh hadiah atau hukuman.
c. Law of effect ( hukum efek) menyatakan dalam keadaan aksi simetris mungkin dilakukan,
    hadiah lebih kuat pengaruhnya daripada hukuman        

1.2. Teori Classical Conditioning (Ivan Pavlov)
Teori belajar Pavlov dikenal juga dengan istilah Classical Conditioning. Dengan menggunakan kata kunci conditioning, Pavlov hendak menekankan bahwa tidak semua stimulus dapat dianggap sebagai variabel anteseden dari peristiwa belajar. Stimulus yang tidak menyebabkan terjadinya aktivitas disebut sebagai stimulus fisiologis terutama melalui sistem reseptor. Bagi Pavlov, stimulus ini hanya melahirkan refleks dan karena itu tidak dapat dikatagorikan sebagai respons belajar. Stimulus fisiologis biasanya hanya dapat memunculkan refleks, sehingga diperlukan adanya stimulus yang terkondisi untuk merubah refleks menjadi aktivitas belajar. Dengan demikian, respons belajar, lanjut Pavlov, hanya terjadi melalui stimulus yang terkondisi dan terkontrol.
Proses terjadinya respons belajar melalui stimulus yang terkondisi menurut Pavlov, bersifat gradual sehingga diperlukan adanya reinforcement, untuk pemantapan respons belajar, menghindari terjadinya extinction, atau menghilangnya respons belajar yang diharapkan serta mencegah terjadinya spontaneous recovery dalam waktu yang relatif singkat. Dalam argumentasi Pavlov ini terlihat bahwa aktivitas belajar berlansung dalam suatu proses evolusi melalui stimulus terkondisi yang dirancang secara sistematis dan dikontrol secara ketat untuk mendapat perilaku belajar yang memadai.

1.3 Teori Operant Conditioning (Skiner)
Teori belajar Skiner lebih dikenal dengan sebutan operant conditioning theory. Secara garis besar teori Skiner memiliki persamaan dengan teori Pavlov, namun aksentuasi analisisnya berbeda. Starting point analisis Skiner lebih diarahkan pada persoalan reinforcement. Dalam perspektif teori Skiner reinforcement perlu diberikan secara terus menerus maupun secara selang-seling dalam jangka waktu tertentu agar diperoleh hasil belajar yang memadai. Pemberian reinforcement biasanya dilakukan pada awal proses belajar, yaitu ketika seseorang memberikan respons belajar secara benar.
Jika contineous reinforcement diberikan pada awal peoses belajar, maka reinforcement selang-seling diberikan ketika terjadi penurunan respons belajar. Tipe reinforcement ini dapat dibagi menjadi ratio yaitu pemberian reinforcement berdasarkan jumlah respons yang diberikan serta interval yaitu pemberian reinforcement menurut rentang waktu tertentu. Hal penting yang dapat dipelajari dari teori belajar Skiner yaitu (1) proses belajar hendaknya dirancang untuk jangka waktu yang pendek beradasarkan tingkah laku yang dipelajari sebelumnya; (2) pada awal proses belajar perlu ada reinforcement serta kontrol terhadap reinforcement yang diberikan; (3) reinforcement perlu segera diberikan begitu terlihat adanya respons belajar yang benar; (4) subyek belajar perlu diberi kesempatan untuk melakukan generalisasi, dan diskriminasi stimulus sebab hal ini akan memperbesar kemungkinan keberhasilan.

2. Teori Belajar Kognitif
                Teori belajar kognitif merupakan salah satu teori yang muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan mendasar dalam teori behaviorisme yang lebih mementingkan perubahan perilaku yang tampak. Bagi para penganut teori kognitif, belajar bukan hanya sekadar interaksi antara stimulus dan respons melainkan melibatkan juga aspek psikologis lain (mental, emosi, persepsi) yang menyebabkan orang memberikan respons terhadap sebuah stimulus. Dalam perspektif ini, stimulus bukanlah variabel tunggal yang menyebabkan terjadinya respons melaikan terdapat variabel moderator tertentu yang turut mempengaruhi kemunculan suatu respons. Variabel moderator inilah yang disebut sebagai faktor intenal seperti emosi, mental, persepsi, motivasi dan sebagainya. Berikut ini dipaparkan pemikiran tiga tokoh dalam teori belajar kognitif yang sangat berjasa dalam mengembangkan teori ini, yakni :

2.1 Jean Piaget                              
Jean Piaget merupakan salah satu ilmuan berkebangsaan Prancis (lahir di Neuchetel, Switserland), dan mendapat gelar Ph.D. dalam bidang ilmu Hewan, berminat dalam bidang filsafat dan baru pada tahun 1940 ia menekuni bidang Psikologi. Berkaitan dengan belajar, Piaget membangun teorinya berdasarkan pada konsep Skema yaitu, stuktur mental atau kognitif yang menyebabkan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengoordinasikan lingkungan sekitarnya (Suparno, 1997). Skema pada prinsipnya tidak statis melainkan selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan kognitif. Berdasarkan asumsi itulah, Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang. Bagi Piaget, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yakni:
1. Asimilasi adalah proses penyesuian persepsi, konsep, pengalaman dan pengetahuan baru ke dalam skema yang telah dimiliki seseorang.
2. Akomodasi yaitu, perubahan skemata ke dalam situasi yang baru. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: (1) membentuk skema baru yang cocok dengan pengetahuan yang baru diperoleh, atau (2) memodifikasi skema yang telah ada agar cocok dengan pengetahuan yang baru diperoleh.
3. Equilibrasi yaitu, proses penyeimbangan berkelanjutan antara asimilasi dan akomodasi.
Menurut Paiget, belajar adalah proses perubahan secara kualitatif dalam struktur kognitif. Perubahan dimaksud terjadi, manakala informasi atau pengetahuan baru yang diterima sesorang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bersesuaian (diasimilasikan) dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya. Kompleksitas pengetahuan dan struktur kognitif tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya asimiliasi secara mulus. Dalam kasus tertentu asimilasi mungkin saja tidak terjadi karena informasi baru yang diperoleh tidak bersesuaian dengan stuktur kognitif yang sudah ada.
 Dalam konteks seperti ini struktur kongitif perlu disesuaiakan dengan pengetahuan baru yang diterima. Proses semacam ini disebut akomodasi. Penekanan Piaget tentang betapa pentingnya fungsi kognitif dalam belajar didasarkan pada tahap perkembangan kognitif manusia yang dikategorikan dalam suatu struktur hirarkhis terdiri dari enam jenjang, mulai dari tahap sensori-motorik sampai tahap berpikir universal.

2.2 Emil Bruner (Teori Kognitif)
Bagi Bruner, perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya digunakan. Menurut Burner, perkembangan kongitif manusia terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya memandang lingkungan. Ketiga tahap dimaksud meliputi:
1.       Tahap Enaktif, yaitu tahap dimana individu melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan usahanya memahami lingkungan.
2.       Tahap Ikonik, yaitu tahap individu memahami lingkungannya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
3.       Tahap simbolik, yaitu tahap dimana individu memiliki gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika.
Dalam konteks berpikir yang demikian, Bruner berpendapat bahwa pembelajaran dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu seorang anak sampai mencapai tahap perkembangan tertentu. Apabila bahan pembelajaran didesain secara baik, maka individu dapat belajar meskipun usianya belum memadai. Dengan logika lain, perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan melalui materi yang dirancang sesuai dengan karakteristik kultural siswa.

3. Teori Belajar Konstruktivis
            Fosnot (dalam Khadijah, 2009:76) mengatakan konstruktivis adalah teori tentang pengetahuan dan belajar yang menguraikan tentang apa itu “mengetahui” (knowing) dan bagaimana seseorang “menjadi tahu” (comes to know). Konstruktivis memandang ilmu pengetahuan bersifat non objective, temporer, dan selalu berubah.
            Menurut Eggen dan Kauchak (dalam Khadijah, 2009:78), ada empat cirri konstruktivis yaitu: (1) dalam proses belajar, individu mengembangkan pemahaman sendiri, bukan pemahaman orang lain. (2) proses belajar sangat terhantung pada pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya. (3) fasilitas belajar oleh interaksi social. (4) belajar yang bermakna (meaningful learning) timbul dalam tugas-tugas belajar yang otentik.
            Dari berbagai pandangan kontruktivis yang ada, ada dua pendangan yang mendominasi (dalam Khadijah, 200:78), yaitu:
1. Teori Individual Cognitive Constructivist
            Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget yang menekankan pada aktivitas belajar yang di tentukan oleh pemelajar dan berorientasi penemuan sendiri.
2. Teori Sociocultural Construtivist
Teori ini dikemukakan oleh Lev Lygotsky, yang berpandangan bahwa pengetahuan berada dalam konteks sosial, karenanya ditekankan pentingnya bahasa dalam belajar yang timbul dalam situasi-situasi sosial yang berorientasi pada aktivitas (Eggen dan Kauchack, dalam Khadijah, 2009:81)

D. Implikasi Belajar Dalam Pendidikan/ Pembelajaran
Pengertian belajar dapat diartikan secara khusus, berdasarkan aliran psikologi tertentu. Pengertian belajar menurut aliran-aliran tersebut sebagai berikut: Menurut psikologi daya pembelajaran adalah upaya melatih daya-daya yang ada pada jiwa manusia supaya menjadi lebih tajam atau lebih berfungsi. Adapun prinsip-prinsip belajar yang perlu diperhatikan terutama oleh pendidik ada 8 yaitu:
1.      Perhatian, Sebelum pembelajaran dimulai guru hendaknya menarik perhatian siswa agar siswa berkonsentrasi dan tertarik pada materi pelajaranyang sedang diajarkan.
2.    Motivasi. Jika perhatian siswa sudah terpusat maka langkah guru selanjutnya memotivasi siswa. Walaupun siswa udah termotivasi dengan kegiatan awal saat guru mengkondisikan agar perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran yang sedang berlangsung.
3.  Keaktifan siswa. Pembelajaran yang bermakna apabila siswa aktif dalam proses belajar dan pembelajaran. Siswa tidak sekedar menerima dan menelan konsep-konsep yang disampaikan guru, tetapi siswa beraktivitas langsung. Dalam hal ini guru perlu menciptakan situasi yang menimbulkan aktivitas siswa.
4.      Keterlibatan langsung, pelibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran adalah penting. Siswalah yang melakukan kegiatan belajar bukan guru. Supaya siswa banyak terlibat dalam proses pembelajaran, guru hendaknya memilih dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
5.      Pengulangan belajar. Penguasaan meteri oleh siswa tidak bisa berlangsung secara singkat. Siswa perlu melakukan pengulangan-pengulangan supaya meteri yang dipelajari tetap ingat.
6.      Materi pelajaran yang merangsang dan menantang, kadang siswa merasa bosan dan tidak tertarik dengan materi yang sedang diajarkan. Untuk menghindari gejala yang seperti ini guru harus memilih dan mengorganisir materi sedemikikan rupa sehingga merangsang dan menantang siswa untuk mempelajarinya.
7.      Balikan atau penguatan kepada siswa, penguatan atau reinforcement mempunyai efek yang besar jika sering diberikan kepada siswa. Setiap keberhasilan siswa sekecil apapun, hendaknya ditanggapi dengan memberikan penghargaan.
8.      Aspek-aspek psikologi lain, setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan individu baik secara fisik maupun secara psikis akan mempengaruhi cara belajar siswa tersebut, sehingga guru perlu memperhatikan cara pembelajaran yang diberikan kepada siswa tersebut misalnya, mengatur tempat duduk, mengatur jadwal pelajaran , dll.

d. Implikasi Belajar dalam Pendidikan atau pembelajaran
            Implikasi perkembangan teori belajar sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa, dsb. Teori kognitif, pembelajaran lebih dititik beratkan pada perolehan pengetahuan oleh siswa, guru membimbing siswa untuk memiliki pengetahuan yang hendak dituju. Sedangkan aliran humanistik pembelajaran yang memanusiakan manusia. Guru mengakui siswa sebagai individu yang punya kemampuan dan harga diri. Aliran yang terbaru yaitu Teori kontemporer pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa hendaknya menarik, merangsang siswa untuk berpikir dan guru dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna.




Jumat, 07 Oktober 2011

Pengaruh Memori dalam Belajar

A.  Definisi Memori

Para ahli memberikan pengetian bermacam-macam tentang memori. Pada umumnya memandang memori sebagai hubungan dengan pengalaman masa lampau. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat, manusia mampu menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya. Dalam kamus lengkap psikologi (Chaplin dalan Khadijah, 2009), memori diartikan sebagai : (1) fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi pengalaman masa lalu (2) keseluruhan pengalaman masa lampau yang dapat diingat kembali, dan (3) satu pengalaman masa lalu yang khas.
Dengan kenyataan di atas, terdapatlah banyak definisi memori, berikut ini dikemukakan beberapa definisi memori menurut para ahli :
1.  Menurut Kartono (1990) dalam Khadijah, N (2009), menyatakan bahwa memori adalah kemampuan untuk mencamkan,menyimpan dan memproduksi kembali hal-hal yang pernah diketahui. Sedangkan sifat-sifat dari ingatan yang baik adalah setia,cepat, bias menyimpan lama, luas dan siap.
2. Menurut Walgito (1997) dalam Khadijah, N (2009), menyatakan bahwa memori adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau.
3.      Menurut Morgan dkk (1986) dalam Khadijah, N (2009), mendefinisikan memori sebagai proses encoding (pengkodeaan), storage(penyimpanan), dan retrieval(pemanggilan kembali) apa yang pernah dipelajari sebelumnya.
4.   Menurut Bruno (1987) dalam Khadijah, N (2009), menyatakan bahwa memori adalah proses mental yang meliputi pengkodeaan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat dalam otak.
                                                 
Dalam bukunya psikologi pendidikan Sumadi Suryabrata (2004) menjelaskan bahwa pribadi manusia beserta aktivitas-aktivitasa tidak semata-mata ditentukan oleh pengaruh dan proses-proses yang berlangsung waktu kini, tetapi juga oleh pengaruh-pengaruh dan proses-proses di masa lampau yang ikut menentukan. Pribadi berkembang di dalam suatu sejarah dimana hal yang lampau dalam cara tertentu selalu ada dan dapat diaktifkan kembali. 

B.     Proses dan tipe-tipe Memori

Para peneliti mempelajari bagaiman informasi pada mulanya ditempatkan atau disandikan kedalam memori, bagaimana informasi dipertahankan atau disimpan setelah disandikan, dan bagaimana informasi ditemukan kembali untuk tujuan tertentu proses dasar yang dibutuhkan oleh memori. Kegagalan bias saja terjadi dalam salah satu proses ini, Beberapa bagian dari suatu kejadian mungkin tidak tersandikan, representasi mental dari kejadian mungkin tidak tersimpan, atau bahkan sekalipun memori itu ada, anda mungkin tak mampu mengingatnya.
Penyelidikan atas proses penyimpanan membuat para psikolog mengklasifikasikan memori berdasarkan permanensi meraka (Wrinkle & Cowan dalam Santrock, 2005).  Memori Jangka pendek adalah sistem memori dengan kapasitas terbatas dimana informasi lazimnya disimpan selama 15 s.d 10 detik, kecuali seseorang menggunakan strategi untuk mempertahankannya. Memori Jangka panjang adalah tipe memori yang relatif permanen dan tidak terbatas. Orang lazimnya mengacu pada memori jangka panjang ketika mereka berbicara tentang “memori”. Ketika anda mengingat tipe permainan yang anda sukai, kala anda masih kanak-kanak, atau kencan pertama anda. Anda sedang menggunakan memori jangka panjang anda. Sebaliknya ketika anda mengingat kalimat yang baru saja anda baca beberapa detik yang lalu, anda sedang menggunakan memori jangka pendek.
Ketika para psikolog menganalisis memori jangka pendek, mereka mendeskripsikannya sebagai sebuah gedung penyimpan pasif dangan rak-rak penyimpanan informasi, sampai informasi tersebut dipindahkan ke memori jangka panjang. Akan tetapi kita melakukan banyak hal dengan informasi yang tersimpan dalam memori jangka peendek. Contohnya, kata-kata dalam kalimat yang baru saja anda baca menjadi bagian dari memori jangka pendek anda, dan anda memanipulasikannya  menjadi bentuk yang bermakna utuh.
Para pakar teori pemrosesan informasi membagi LTM (long term memori) ke dalam 3 bagian , yaitu episodic memory, semantic memory dan procedural memory (Slavin dalam Khadijah,N 2009)
1.      Episodic Memory (memori episodic)
Episodic memory adalah memori tentang pengalaman personal, sebuah gambaran mental tentang hal-hal yang kita lihat atau kita dengar. Bila kita mengingat apa yang kita makan semalam atau apa yang terjadi pada masa kita di SMA, maka kita sesungguhnya tengah merecall Informasi yang tersimpan dalam episodic memory jangka panjang.

2.      Semantik Memory ( memori semantic)
Semantik memory berisi fakta-fakta dan informasi umum tentang apa yang kita ketahui, baik itu konsep, prinsip atau aturan-aturan dan bagimana cara menggunakannya; serta keterampilan problem solving dan strategi belajar yang kita gunakan. Sebagian besar hal-hal yang kita pelajari di sekolah di simpan dalam semantic memori.

3.      Prosedural Memori (memori procedural)
Prosedural memori menunjukkan pada “ knowing how”. Kemampuan mengendarai kendaraan bermotor atau bersepeda adalah contoh keterampilan yang disimpan dalam procedural memory.
Sulit diketahui secara pasti bagaimana dan sejauhmana hubungan antara memori episodic, memori semantic dan memori procedural. Akan tetapi menurut sebagian ahli, memori episodic berkemungkinan dapat membuka jalan penyimpanan informasi yang bersifat semantic.

C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi memori

Kuat atau lemahnya memori seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kondisi fisik. Diantara kondisi fisik yang sangat berpengaruh dalam mengingat adalah kelelahan, kurang tidur dan sakit. Seseorang yang dalam kondisi lelah, kurang tidur dan sakit akan mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu. Hal ini disebabkan ketika dalam kondisi tersebut biasanya individu mengalami kemunduran kemampuan mental yang disebabkan gangguan fisik tadi.
Faktor lain yang mempengaruhi memori adalah usia. Ingatan yang paling kuat terjadi pada masa anak-anak, yaitu pada usia 10-14 tahun. Sedang orang yang sudah lanjut usia akan mengalami kesulitan jika diminta untuk mengingat apa yang sudah dipelajari atupun dialaminya, karena gejala yang paling umum ditemui pada masa ini adalah pikun.

D.    Hubungan Memori dan Belajar

Para ahli sepakat bahwa terdapat hubungan yang erat antara memori dan belajar (Syah dalam Khadijah, N (2009)).  Seperti telah dikemukakan bahwa memori sesungguhnya adalah fungsi mental yang bekerja menangkap informasi dari stimulus, menyimpannya, dan mengungkapkannya kembali bila diperlukan. Sedang proses belajar yang kita ketahui adalah sebuah proses yang melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi, dan hasil belajar bias diketahui melalui proses pengungkapankembali apa yang telah diketahui oleh siswa.  Dengan demikian, dalam belajar dibutuhkan  pemanfaatan kemampuan memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima, menyimpannya, dan memunculkannya kembali saat menjawab soal ulangan atau ujian.
Hubungan antara memori dan belajar dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Ketika siswa mempelajari tentang kandungan surat Al-An Am ayat 162-163 tentang keikhlasan dalam hidup, mula-mula informasi tersebut masuk ke dalam system memori terdepan siswa, yaitu sensori register. Bila siswa menaruh perhatian pada apa yang ia pelajari, maka informasi tersebut akan diteruskan ke short term memori. Selanjutnya jika informasi tersebut diulang-ulang di rumah maka informasi akan masuk ke long term memori. Suatu saat kemudian, ketika ulangan atau ujian, atau anda menanyakannya  pada siswa, maka informasi tersebut akan dimunculkan kembali. Proses menyimpan informasi dalam memori yang biasa disebut dengan menghafal ini merupakan salah satu proses yang ditempuh oleh siswa ketika belajar. Dengan demikian memori merupakan salah satu fungsi yang digunakan ketika seseorang belajar (Khadijah, N (2009).

Menurut Slameto (2010) dalam bukunya belajar & faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat dibandingkan dengan belajar yang tampaknya tidak ada artinya. Menghafal deretan huruf-huruf yang tidak ada hubungan arti adalah sangat sulit dan lama. Untuk memudahkannya guru perlu membubuhkan suatu arti sehingga mudah di hafal. Belajar menghubungkan atau merangkaikan dua objek atau peristiwa menjadi lebih mudah apabila kedua objek atau peristiwa itu terjadi atau dijumpai dalam urutan yang berdekatan, baik ditinjau dari segi waktu maupun ruang.Dalam pelajaran, pengertian keadilan diajarkan berurutan dengan pengertian ketidakadilan; bentuk rumah khas Minangkabau ditunjukkan bersamaan dengan bentuk rumah joglo Jawa. Siswa yang sudah berhasil mengingat objek yang satu akan mudah ingat objek lainnya. Belajar dipengaruhi oleh frekuensi perjumpaan dengan rangsangan dan tanggapan yang sama atau serupa yang dibuat. Dalam pelajaran, siswa menjadi makin baik pengusaannya jika kepada mereka diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengulang dan berlatih. Mengulang-ulang sangat cocok untuk belajar keterampilan psikomotor, seperti bermain piano, mengetik, melukis huruf. Belajar tergantung pada akibat yang ditimbulkannya. Ini berarti bahwa pelajaran  yang memberi kesan menyenangkan, menarik, mengurangi ketegangan, bermanfaat, atau memperkaya pengetahuan lebih efisien dan tersimpan atau memberi kesan yang lebih lama. Belajar sebagai suatu keutuhan yang dapat diukur tidak hanya tergantung pada proses bagaimana belajar itu terjadi, tetapi juga pada cara penilaiannya atau penggunaannya. Ini berarti bahwa apapun yang dianggap telah dipelajari oleh seseorang, ia hanya akan dapat menunjukkan penguasaannya atas sebagian dari yang telah dipelajari, dan ini tergantung pada macam pertanyaan atau situasi yang diciptakan untuk menunjukkan penguasaan tersebut.

E.     Implikasi memori dalam pembelajaran

Penelitian-penelitian di bidang memori memberikan implikasi terhadap pembelajaran sebagai berikut:
1.      Guru harus memandang tugas mereka adalah untuk membantu siswa membentuk record permanen terhadap informasi yang disajikan di kelas
2.     Dalam memberikan tes, guru harus memberikan cue dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memaksimalisasi kesempatan bagi siswa untuk mengingat informasi.
3.  Guru harus menggunakan berbagai metode untuk meningkatkan pemrosesan intern terhadap pelajaran
4.    Karena semua informasi rentan untuk dilupakan serta memiliki efek jarak dan interferensi, guru harus mengurangi efek lupa dengan cara meningkatkan latihan yang terdistribusi dan mengingtkan secara berkala tentang informasi.

Minggu, 02 Oktober 2011

PENGARUH EMOSI PADA BELAJAR

        Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar ( Meiner dalam Khodijah, 2009:174). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Penjelasan tentang hal ini dapat diambil dari teori tentang struktur dan cara kerja otak, yaitu Otak Triune. Menurut teori ini, otak manusia terdiri dari manusia terdiri dari tiga bagian dan pemanfaatan seluruh bagian otak dapat membuat belajar lebih cepat,lebih menarik, dan lebih efektif. Dari ketiga bagian otak tersebut, bagian otak yang memainkan peran dalam belajar adalah neokoerteks, sedang yang memainkan peran besar dalam emosi adalah sistem limbik. Jika siswa mengalami emosi positif, maka sel-sel saraf akan mengirim impuls-impuls positif ke neokorteks dan proses belajar pun dapat terjadi. Sebaliknya, jika siswa mengalami emosi negatif, maka tertutup kemungkinan untuk timbulnya impuls-impuls yang mendorong belajar, tetapi yang terjadi adalah meningkatnya fungsi mempertahankan diri terhadap emosi yang tidak menyenangkan. Akibatnya,proses belajar menjadi lamban atau bahkan terhenti.
            Karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi yang positif pada diri pelajar. Jika siswa mengalami emosi positif, mereka dapat menggunakan neokorteks untuk tugas-tugas belajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Lingkungan yang dimaksud di sini mencakup lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik menmcakup penataan ruang kelas dan penataan alat bantu belajar, sedang lingkunagan psikologis mencakup penggunaan musik untuk meningkatkan hasil belajar. Penataan ruang kelas, seperti penataan tempat duduk, pajangan, dan penyediaan wewangian, memainkan peranan penting dalam menciptakan emosi positif dalam belajar. Bayangkan jika siswamasuk ke ruang kelas yang pengab dan bau dengan dinding yang kosong atau pajangan, serta susunan bangku yang membosankan, maka sulit diharapkan mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
            Selain penataan ruang kelas, penggunaan alat bantu belajar yang menarik dan musik yang lembut juga sangat membantu dalam penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan alat bantu menimbulkan “rasa” yang lebih baik dari penjelasan yang diberikan oleh guru, sedang irama, ketukan, dan keharmonisan musik mempengaruhi gelombang otak dan detak jantung, juga membangkitkan perasaan dan ingatan ( Lozanov seperti yang dikutip oleh DePorter, Reardon, dan Singer-Nourie, (dalam Khodijah, 2009: 176). Dalam hal ini, penelitian menunjukkan bahwa jenis musik yang tepat untuk merangsang dan mempertahankan lingkungan belajar yang optimal adalah musik barok (Bach, Corelli, Tartini, Vilvadi, Handel, Pachelbel, Mozart) dan musik klasik (Satie, Rachmaninoff). Karena struktur kord melodi dan instrumentasi kedua jenis musik tersebut membantu tubuh untuk mencapai keadaan waspada tetapi relaks (Schuter dan Gritton, seperti yang dikutip oleh Lozanov, seperti yang dikutip oleh DePorter, Reardon, dan Singer Nourie, 2000 (dalam Khodijah, 2009:176).
         Hal yang tidak kalah pentingnya dalam penciptaan  emosi positif adalah dengan penciptaan kegembiraan belajar. Menurut Meier, (dalam Khodijah, 2009:176), kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh dan terciptanya makna, pemahaman, dan nila yang membahagiakan pada diri si pemelajar.

KECERDASAN EMOSI
           Emotional Intellegance atau kecerdasan emosi diperkenalkan pertama kali oleh Peter Salovory dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire  Mujid dan Mudzakir, (dalam Khodijah, 2009:177). Istilah ini kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh dunia semenjak seorang psikolog New York bernama Daniel Goleman menerbitkan bukunya yang berjudul Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ pada tahun 1995.
          Goleman (dalam Khodijah, 2009:177) menyatakan bahwa kecerdasan umum (intelegensi) semata-mata hanya dapa saja, sedang 80% lainnya adalah apa yang disebutnya Emotional Intelligence. Bila tidak ditunjang dengan pengolahan emosi yang sehat, kecerdasan saja tidak akan menghasilkan seorang yang sukses hidupnya dimasa yang kan datang ( Goleman, dalam Khodijah, 2009:177). Menurut Salovey dan Mayer seperti yang dikutip dalam Mujib dan Mudzakir (dalam Khodijah, 2009:177), kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali emosi diri sendiri, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat. Memotivasi diri sendiri, mengenali orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Dengan demikian, kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat .terutama dalam berhubungan dengan orang lain.
         Unsur terpenting dalam kecerdasan emosi ini adalah empati dan kontrol diri Empati artinya dapat merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain.terutama bila orang lain dalam keadaan malang sedangkan kontrol diri adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi  sendiri sehingga tidak mengangu hubungan dengan orang lain.
            Kecerdasan emosi perlu ditumbuhkan semenjak anak masih kecil melalui naskah emosi yang sehat. Tujuan mengajarkan naskah memori yang sehat ( healthy emotion script) adalah agar naskah emosi yang sehat ini dapat diinternalisasi anak sejak dini dan dbawa terus oleh anak dan berinteraksi dengan orang lain bila ia dewasa kelak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan baik oleh orang tuamaupun guru dalam rangka mengajarkan naskah emosi yang sehat pada anak, diantaranya ( Wimbarti, dalam Irfan dkk (dalam Khodijah, 2009:178): 
  • Ajarkan nilai-nilai budaya setempat dimana anak hidup. Apabila anak hidup di Yogyakarta, tanamkan nilai budaya jawa yang benar, meski orang tuanya berasal dari budaya lain.
  • Kenali dulu emosi-emosi anak yang menonjol, baruajarkan anak untuk mengenali emosi-emosi itu.  Berilah nama dari emosi anak yang menonjol. Misalnya: anak sering menangis bila apa yang dimaunya tidak segera dituruti. Katakan padanya bahwa ia sedang marah, dan kita tahu bahwa dia marah kehendaknya tidak terkabul.
  •  Kenalkan anak tentang emosi anak dengan car lain selain kata-kata . Ekspresikan emosi anda dengan bahasa tubuh atau dengan ekspresi wajah. Misalnya rangkullah dia bila sedang duuk berdua, cium dia bila anda sedang berbahagia, dekap ia bila sedang pedih, cemberutkan wajah bila kita tidak berkenan dengan perilakunya , dan sebagainya.
  • Buatlah disiplin yang konsisten pada diri kita agar anak belajar menghormati otoritas. Menghormati otoritas sangat diperlukan untuk  menghindarkan ia dari tindakan yang tidak benar.
  • Ajarkan pada anak ekspresi emosi yang dapat diterima oleh lingkungan. Misalnya: perasaan sedih karena tidak dapat membeli sesuatu yang tidak boleh diekspresikan dengan menangis meraung-raung di toko, bahwa bila ada tetangga meninggal jangan menghidupkan radio keras-keras, bila sedang berbahagia jangan tertawa terbahak-bahak sampai langit-langit mulut terlihat lawan bicara.
  • Tunjukkan  perilaku kita sendiri yang diimitasi atau ditiru oleh anak secara langsung. Misalnya: memberi sedekah pada pengemis, mengajak ke panti asuhan.
  • Pupuk rasa empati dengan memelihara ternak atau hewan peliharaan lain. Ajak anak mengamati tingkah laku hewan itu dan mendiskusikan kira-kira hewan itu sedang merasakan apa.